Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Gelora Nasionalisme Dari Dalam Istana Kerajaan


Gelora Nasionalisme Dari Dalam Istana Kerajaan

Namun kami menelaah hanya seputar kerajaan kaidipang besar kami tidak bermaksud melakukan protes atas isi penulisan pemberitaan wartawan tribun manado saudara AUDI KERAB pada tangal 23 maret 2008 tetapi memberikan input klarifikasi sebagaimana mestinya yang kami ketahui dari orang-orang tua yang merasakan langsung masalahnya. Dari peristiwa sejak tanggal 23 desember 1942 hingga di hapusnya swapraja kerajaan kaidipang besar 01 juli 1950 yagn dikenal dengan revolusi bolaang mongondow. Salah seorang saksi hidup yakni bapak TUNE TAIYA usia 82 tahun berdomisili di desa sonuo kecamatan bolangitang barat mengatakan saya adalah salah satu pemuda merah putih bersama teman saya MUHSIN BANGKO, SURANI HURALATA dan ADIN PUASA di bawah pimpinan abo arifin ponto (mai sarco) dan abo madu patilima (mai zainudin) sejarah mencatat bahwa tanggal 01 juli 1950 adalah gerakan pemuda bolaang mongondow yang anti penjajahan sekaligus untuk menggulingkan keempat bekas daerah swapraja di bolaang mongondow yang masih merupakan boneka belanda karena kesetiaanya dan di kaidipang besar pemuda-pemuda ini dikenal dengan pemuda merah putih kaidipang besar yang merupakan penyebaran dari pemuda merah putih gorontalo di bawah pimpinan bapak NANi WARTABONE. Pemimpin pemuda merah putih yang berjiwa patriotis, nasionalis dari bolangitang adalah abo arifin ponto dan abo madu patilima. Gerakan pemuda bolaang mongondow ini menjadi KNI (komite nasional Indonesia) pemuda kaidipang yang menjadi anggota KNI bolaang mongondow adalah
1. Partai MasyumiAbo Ahmad D KorompotAbo Bintarang Gumohung Bapak Male M Buhang
2. Partai PSIIAbo Donggala M. Korompot Bapak Puasa M Yakub
3. Partai SosialisBapak Ishak Patadjenu
Dalam hal ini kami tidak menonjolkan atau menunjukan popularitas seseorang maupun kelompok orang tetapi mengklarifikasi duduk persoalannya dan masyarakatlah yang memberikan analisa penilaianya. Sejarah adalah ungkapan-ungkapan peristiwa masa lalu yang tidak dapat di pungkiri. Kami dambakan di bolaang mongondow utara ini adalah terciptanya keharmonisan keakraban.
Sebagai warga Negara yang baik tentunya kita punya hak yang sama dalam mengeluarkan atau menyampaikan suatu pendapat. Marilah kita rapatkan barisan, perlihara rasa persatuan dan kesatuan, pererat tali silatuhrahmi persaudaraan dan pertebal silahturahmi sebab kita semua adalah bersaudara.
Saudara audi kerab juga dalam penulisan ini masih mengharapkan input-input atau masukan-masukan dalam pengungkapan sejarah, karena menurutnya masih banyak fakta sejarah yang belum terungkap karena keterbatasan dan kurangnya informasi, namun karya ini membuka jendela untuk mengungkap jutaan rahasia yang belum terungkap.
Tanggal 23 januari 2942 merah putih berkibar di gorontalo yang merupakan awal pemberontakan pemuda merah putih gorontalo di bawah pimpinan bapak nanai wartabone menentang penjajah belanda dengan tekad Indonesia berparlemen. Peristiwa ini merembet hingga ke kaidipang besar karena partai serikat islam dan muhamadiyah adalah cabang dari gorontalo.
Melihat gejolak in penguasa kerajaan kaidipang besar segera membentuk polisi-polisi kerajaan dengan dalih menjag akeamanan. Polisi-polisi ini terdiri dari suku minahasa, sanger, arab dan pribumi. Sebagao kepala kepolisiannya adalah bapak F siroy komandanya bapak abdulah alamri
Tanggal 1 febriari 1942 polisi-polisi kerajaan menangkap tokoh-tokoh sarikat islam dan muhamadiyah yang berkaitan dengan peristiwa di gorontalo termasuk yang di curigai :
ü abo donggala m korompot (kepala distrik kaidipang)
ü bapak A.M PAPEO (sangadi kuala)
ü abo leo mokodompis (sangadi buko)
ü abo ahmad D korompot (sangadi bigo)
ü abo husain antogia (ketua muhamadiyah)
ü bapak santa buhang (anggota partai sarikat islam)
ü abo pandu korompot (sangadi pontak)
ü bapak idrus M buhang (anggota muhamadiyah)
karena cepatnya mereka menerima informasi dari pada pendukungnya mak amalam harinya mereka berangkat ke gorontalo dengan jalan kaki melalui tihengo tembus kepedalaman anogile (atinggola) dikawal oleh bapak mohamad misaalah dan bapak sinte datukramat. Keesokan harinya tokoh-tokoh yang tidak sempat melarikan diri di tangkap oleh polisi-polisi kerajaan kemudian di bawah ke desa biontong antara lain :
ü Abo Philip Antogia
ü Abo Vandis Harunja
ü Abo Arfan D Korompot
ü Bapak Male M Buhang
ü Bapak Komas Datukramat
Yang Melarikan Diri Ke Desa Imana Antara Lain :
ü Abo Bintara Gumohung
ü Bapak Dabokaso Bolota
ü Bapak Maud Mokodompis
ü Bapak Lasama Rahman
ü Bapak Meipini Hapili
ü Abo Pade Korompot
ü Bapak Puasa M Yakub
ü Bapak Junus Patadjenu
ü Bapak Tunggulia Mokodompis
ü Bapak Gumaji Datuela
ü Bapak Hairama Tegela
ü Bapak Hangkiho Lamalaka
ü Bapak Popotung Patadjenu
ü Bapak B Posumah
ü Bapak Ismail Buhang
ü Bapak A.O Papeo
ü Bapak Laupak Bantu
ü Bapak Johan Salute
ü Bapak Gumohung
ü Bapak Latarima
ü Bapak Kamaru
ü Tontola Datuela
ü Jahidin Tegela
ü Après Korompot
ü Noho Rahman
ü Alumin Tonote
ü Ouko Wengkeng
ü Ayuba Mokodompis
ü Maujud Ahmadi
ü Muli Muliling
ü Turuna Van Gobel
ü Suduri Muliling
ü Suwya Ahmadi
ü Abu Baker Misaala
ü Bapak Rap Buhang
dan masih banyak lagi tokoh-tokoh pejuang yang tidak sempat disebut satu persatu.
Sejak tahun 1910-1912 raja mahmud manopo korompot antogia lengser ke prabon atau mengundurkan diri dari jabatannya untuk sementara pemerintahan di laksanakan ole jogugu mbuingo papeo.

Perlu dijelaskan :D i kaidipang tidak di kenal raja mahmud lengser ke prabon atau egundurkan diri dari jabatannya tetapi pad atanggal 7 februari 1910 beliau wafat di istana kediaman raja didesa kuala. Sebelum dimakamkan jenazah beliau masih disembahyangkan dimasjid jami desa kuala yaitu masjid yang dibangun oleh raja ke 13 raja lui korompot. Masyarakat kaidipang memberikan julukan penghormatan dengan sebutan kiombuina komasigi.
Foto masjid

7 februari 910 raja mahmud meletakan jabatannya, maka kerajaan mengalami kekosongan raja. Tampuk pemerintahan dilaksankan oleh anak raja ke XIV mahmud manopo antogia yaitu dadoali korompot yang berstatus sebagai kepala distrik (marsaoleh) bersama jogugu mbuingo papeo.
Raja ke XIV kerajaan kaidipangMahmud manopo antogiaPerlu dijelaskan :Tanggal 07 februari 1910 raja mahmud bukan meletakan jabatan tetapi beliau wafat. Abo dadoali korompot bukan anak raja ke XIV tetapi adalah putra mahkota raja ke XII raj alui korompot. Beliau tidak pernah melaksanakan tampuk pemerintahan berarti disini terjadi dua pimpinan.Pada fase kekosongan (kevakuman) raja paska wafatnya raja mahmud manoppo korompot antogia dipersiapkan 3 calon pengganti yaitu :
1. Abo Lancing Kormpot (Adik Raja Mahmud)
2. Abo husain korompot (putra mahkota raja ke X tiaha korompot II)
3. Abo dadoali korompot (putra mahkota raja ke XIII lui korompot)
Dalam pencalonan ini terjadi silang pendapat antar akeluarga abo lancing berpendapat kalau husen korompot lebih banyak berdiam di buol karena ibunya orang buol. Sedangkan dadoali ia belum layak jadi raja karena masih terlalu muda.
Gejolak tarik menarik in abo lancing mengambil sikap beliau menemui R.S pontoh yang waktu itu berada di buol, lalau mereka bernegosiasi ini mereka membuat kesepakatan “ datang saja kamu ke kaidipang untuk menduduki posisi raja dengan kesepakatan apa bila kamu sudah duduk menjadi raja akan kami berikan kedudukan jogugu”
Setibanya di kaidipang abo lancing langsung melapor pada jogugu kerajaan kaidipang mbuingo papeo, kemudian jogug mbuingo papeo bermusyawarah dengan tokoh-tokoh adata, tokoh-tokoh masyarakat dan marga korompot kesimpulannya :
Disetujui R.S pontoh menduduki kursi raja dengan ketentuan setiap 5 tahun ditinjau apabila sudah ada pengganti dari marga korompot kedudukan raja akan dikembalikan kedudukan raja.
R.S pontoh sudah berkuasa sesuai dengan kesepakatan menandatangani kontrak pendek kortek verklaring, beliau sudah menentukan batas-batas wilayah kerajaan sebelah barat berbatasan dengan sungai atinggola dan sebelah timur berbatasan dengan desa biontong. Bahkan rencaa beliau nama kerajaan akan dirubah menjadi kerajaan bolangitan baru namun mendapat sanggahan dari bekas jogugu mbuingo papeo, abo dadoali korompot dan mayor kadato johanis van gobel dari buko.
Mereka bertahan kerajaan kaidipang tidak bisa di rubah namanya karena kerajaan kaidipang adalah kerajaan tertua yang dipimpin oleh 14 orang raja secara turun temurun. Akhirnya disepakati nama kerajaan menjadi kerajaan kaidipang besar meliputi kaidipang, bolangitan dengan ibu negeri di boroko. Kesepakatan abo lancing korompot dengan R.S ponto tidak dipenuhi untuk menduduki jabatan jogugu beliau hanya diberikan keduudkan kadi (urusan agama) akibatnya abo lancing kecewa dari kekecewaanya beliau bergiat mendirikan dan mengembangkan serikat islam sehingga berkembang dengan pesat di kerajaan kaidipang besar.
Tahun 1917 abo lancing dan abo leo mokodompis berangkat ke pulau jawa bertemu dengan bapak H.O.S cokroaminoto membahas tentang kegiatan program serikat islam di kerajaan kaidipang besar ke depan. Bapak cokroaminoto memberikan mandate kepada abo lancing korompot menjadi ketua serikat islam dan abo leo mokodompis menjadi secretariat serikat isklam.
Setibanya di kaidipang kedua tokoh serikat islam ini langsung ke gorontalo bertemu dengan bapak Hi katili menyampaikan hasil-hasil pertemuan dengan bapak cokroaminoto.Dari gorontalo dibentuk komisaris partai serikat islam terdiri dari
1. Bapak Abo Lancong Korompot
2. Bapak Lahai Dama
3. Bapak Ada Hati Salute
4. Bapak H Ondong
5. Bapak Gardamon Hangkiho
6. Bapak Bolar Ponamon
7. Bapak Gam Paputungan
8. Bapak Pesona Misaalah
9. Bapak Karel Ponamon
Nasib tak dapat diraih tokoh-tokoh sarikat islam ini dicurigai oleh pemerintah belanda atas informasi dari kerajaan kaidipang besar sehingga langusng didatangkan sebuah kapal perang belanda (kapal putih) untuk menagkap tokoh-tokoh sarikat islam.

Kapal sudah berlabuh diperairan pantai desa kuala, syahbandar kerajaan kaidipang bapak albert lalamentik angsung memasang bendera putih di lokasi ini suatu pertanda alam. Komandan pasukan belanda langsung turun disambut oleh bapak albert lalamentik dijelaskan bahwa di sini aman-aman saja tidak ada keributan kalau melihat banyak orang dijalan mereka barusan keluar dari masjid melaksanakan shalat idul adha selanjutnya mereka jiarah ke istana raja. Setibanya di istana raja komandan pasukan belanda langsung bertemu dengan raja RS. Pontoh dan tidak lama berselang tokoh-tokoh sarikat islam ditangkap.
1. bapak Abo lancing korompot di buang ke pulau jawa dipenjarakan di suku miskin namun beliau tidak melapor pada bapak cokroaminoto sehingga ketika wafat tidak diketahui lagi makamnya, masyarakat kaidipang memberikan julukan dengan sebutan KIDONI KOJAWA

2. Bapak GARDAMON HANGKIHO beliau masih ditahan oleh residen belanda di manado karena ketertiban beliau tahun 1913 memimpin anggota sarikat islam menentang colonial belanda dan raja buol pasumen turunku beliau ditangkap kemudian di bawah ke manado, di manado beliau dipercayakan oleh seorang bangsa jerman sebagai kuasa usaha perkebunan kopi, namun malang si jerman di usir oleh belanda di kembalikan kenegaranya akbitnya kehilangan pekerjaan.Tahun 1917 beliau kembali ke negeri leluhurnya di buroko bergabung dengan pimpinan sarikat islam kaidipang besar abo lancing korompot tahun 1919 tokoh-tokoh sarikat islam di tangkap di buang  kepulau jawa, Sumatra (sawalunto dan aceh) apak gardamon hangkiho masih ditahan oleh residen belanda di manado kemudian di kembalikan ke buol untuk dipertemukan dengan raja buol dan contoluir belanda. Tahun 1925 beliau kembali ke kaidipang dan diam-diam memimpin kembali anggota sarikat islam namun tidak berselang lama setelah itukembali lagi ke buol. Setibanya di buol beliau mendapat laporan dari raja kaidipang besar RS pontoh atas kegiatan sarikat islam. Tahun 1930 beliau ditangkap dipenjarakan dipenjara donggala bersama dengan van gobel korompot (lupa korompot) di vonis hukuman 5 ½ (lima setengah) tahun penjara dan dikirim ke penjara sukamiskin sedangkan van gobel korompot tetap dipenjara donggala. Beliau wafat di jawa tanggal 14-06-1945 dan dimakamkan dipemakaman para tokoh pejuang di perkuburan karet berdekatan dengan makam husni thamrin (makamnya sampai sekarang dipasang bendera merahputih) Gardamon Hangkiho salah satu tokoh perjuangan menentang penjajah du salumpaga toli-toli, namanya terukir diruas jalan toli-toli dengan jalan gardamon hangkiho.
3. Bapak lahai dama dan bapak ada hati salute mereka dibuang ke pulau Sumatra sawalunto usai masa tahanan mereka masih kembali ke kaidipang.
4. Bapak bolar ponamon ke pulau jawa di daerah blitar
5. Bapak pesona misaalah dibuang ke aceh dan masih kembali ke kaidipang
6. Bapak gam paputungan dibuang ke aceh dan masih kembali ke kaidipang di desa olot
7. Bapak karel ponamon dibuang ke wilayah sulawesi tengah.


Lokasi tempat berlabuhnya kapal perang belanda ini menjadi kenangan masyarakat kaidipang hingga kini di sebut tiang bendera. Lokasi ini perlu diabadikan dengan satu bangunan moumen yang mencerminkan ditangkapnya tokoh-tokoh sarikat islam yang anti penjajahan oleh kebengisan pemerintah belanda. Peristiwa ini kejadiannya sekitar tahun 1919.

Kerajaa kaidipang merupakan salah satu kerajaan di wilayah ini yang berdiri tahun 1677Perlu dijelaskan:Kerajaan kaidipang bukan salah satu kerajaan, tetapi kerajaan kaidipang adlah kerajaan tertua yang dipimpin oleh 14 orang secara turun temurun yang meliputi batas-batas wilayah :
Sebelah barat berbatasan dengan desa gentumaSebelah timur berbatasan dengan desa sompiro minangaditi
Kerajaan kaidipang bukan berdiri tahun 1677 tetapi berdiri ±1630 dengan raja I raja mauritz datoe binangkal korompot yang dilantik di goa makassar 1630 atas prakarsa residen belanda piethet van den broke dalam lawatan misi perjalanan dari ternate menuju makassar dengan permaisuri seorang puteri keturunan raja limboto boki tohomiong oliiRaja ke VIII adalah wellem david korompot (1770-1817)• Permaisuri I seorang puteri bernama elizabet dikarunia 2 orang anak yakni patra korompot dan tenga korompot. Ketika raja wellem david masuk agama islam, permaisuri elizabet tidak mau ikut masuk agama islam dan mengambil sikap pulang ke negeri asalnya negeri belanda dan kedua putranya dibawah serta• Permaisuri ke II boki deinulio dikarunia seorang putra bernama Abo Toruru Korompot• Permaisuri ke III boki panivulawa dikarunia seorang puteri bernama Boki Linggakoa Korompot yang mendapat jodoh dengan seorang putera dari bolangitan ponto dikarunia anak seorang putera bernama Salmon PontoBoki linggakoa bermohon kepada bapaknya supaya berikanlah kedudukan raja di bolangitan namun bapaknya waktu itu belum merestui dan menyatakan aku belum berikan pada suamimu, nanti apabila cucuku salmon sudha dewasa baru kuberikan kedudukan raja Ketika Abo Salmon sudah menjelang usia dewasa datang menghadap lagi Puteri Linggakoa saat itu bapaknya sudah merestui dengan ketentuan kamulah yang akan menjalankan pejabat raja nanti Salmon sudah dewasa baru ia lanjutkan. Salah satu keturunan raja salmon ponto adalah Abo Pade Ponto beliau kawin dengan adik Raja Gonggala Korompot (II) yakni Boki Jamarutu Korompot menurunkan anak :

1. Abo ali ponto (bai sapadili)
2. Abo adam ponto (bai indah)
3. Abo sahun ponto

4. Boki s pontoh

• Pemaisuri ke IV Boki Vungaolele asal desa gentuma menurunkan anak :1. Abo Mahanjalangi Korompot2. Abo Panginjolang Korompot (Vansalang)Abo Mahanjalangi menurunkan anak : dasankilo, pinolangkad, salayaru, damopolii, dan bua dompe yang kawin dengan puteri raja limboto lagarusu.Abo Penginjolang waktu mudanya termasuk pemberani dan suka berkelahi begitu dewasa menjadi orang yang taat beribadah sehingga bapaknya raja Wellem David Korompot memberikan kedudukan pada beliau sangadi kadi (urusan agama). Abo Panginjolang berkecil hati dan menyesal karena saudara sebapaknya Boki Linggakoa diberikan kedudukan raja, akhirnya beliau tidak menggunakan nama besar Korompot tetapi menggunakan nama besar Vansolang yang berkembang di desa imana, gentuma, atinggola, buko dan buroko.

• Permaisuri ke VBoki moming dikarunia seorang puteri bernama KATULING. Kemudian Boki Katuling dikawin raja Buol Datumolo dikarunia seorang putra bernama Telehulawa. Telehulawa dikawin raja tiaha korompot II dikarunia seorang putera bernama Abo Husein KorompotPada halaman ini juga tertulisKerajaan kaidipang sempat diperintah oleh raja antogia sebagai raja VII namun kekuasaan kerajaan kaidipang kemudian beralih ke tangan keturunan Donggala Korompot I yaitu tatu makensi korompot mengganti namanya menjadi Wellem David Korompot.Perlu di jelaskan :Raja antogia korompot adalah putera raja ke 5 raja Piantai Korompot dari permaisuri bua Keaba Mamonto Manoppo dari Dumoga Mongondow.Distruktur keturunan raja-raja kerajaan kaidipang tidak ada istilah sempat diperintah oleh raja antogia, tetapi terstruktur adalah raja ke 6 yaitu raja Antogia Korompot dan beliau bukan raja ke 7, raja ke 7 adalah raja Gonggala Korompot II menurunkan 2 orang anak :1. Wellem David Korompot2. Niggule Korompottatu makansi korompot adalah nama raja Wellem David Korompot ketika beliau masuk agama islam (jadi nama pertama waktu beliau masih beragama krsten katolik wellem David Korompot) permaisuri ke 4 Boki Vungoleleterdapat dalam penulisan halamankerajaan kaidipang hingga tahun 1920 banyak pemuda menimbah ilmu di luar daerah. Dalam mengenyam pendidikan di luara daerah, seperti sekolah OSVIA (Opleading Voor Llandse Amtenaren). Sekembalinya ke kampung halaman mereka menebar samangat nasionalisme dan patriotisme. Diantaranya adalah seorang pemuda yang berjiwa patriotisme menentang penjajah belanda adalah lancong korompot. Dia banyak mendapat sentuhan doktrin cinta tanah air dari organisasi serikat islam.Perlu di jelaskan : Bahwa dalam riwayat hidup Abo Lancong Korompot yang diceritakan secara turun temurun tidak pernah didengar beliau disekolahkan atau mengayam pendidikan disekolah OSVIA pada fase kekuasaan kerajaan kaidipang besar.Tahun 1919 Abo Lancong dan tokoh-tokoh sarikat islam seudah ditangkap oleh tentara belanda dan dibuang ke pulau jawa dan sumatera, mana mungkin tahun 1920 mengenyam pendidikan di luar daerah.Abo Lacong adalaha tokoh pejuang sarikat isklam di kaidipang besar  yang tidak sepaham dengan raja RS pontoh akibat kekecewaan sebagaimana yang dijelaskan pada penyampaian sebelumnya.Sesuai kesepakatan setiap 5 tahun ditinjau apabila sudah ada pengganti maka kedudukan raja akan di kembalikan ke marga korompot. (kontrak pendek korte verklaring)Maka pada tahun 1939 sudah dipersiapkan pengganti raja Abo Dadoali Korompot putera mahkota raja ke 13 Lui Korompot, namun kondisi kesehatan beliau itu sudah sangat kritis sehingga didatangkan seorang dokter dari manado bernama dr singal untuk memeriksa kesehatan beliau dibantu oleh mantra kesehatan kaidipang besar Abo Binangkas Mokodompis.Namun manusia hanya merencanakan tetapi Allah SWT menentukan lain, beliau wafat dan kedudukan raja tetap diteruskan oleh R.S pontoh hingga juli 1950 seiring dengan penghapusan daerah swapraja. (rhp)
sumber info : bolmutpost
 

Legenda Dan Sejarah Desa Bolangitang


Awal mula berdirinya desa bolangitang yakni pada tahun 1908 ditempat yang sekarang desa bolangitang, desa bolangitang waktu itu bernama “BULAN ITAM” oleh seorang penulis barat yang bernama Ds Brants dan oleh anak negeri menyebutnya “BULANGITA” Yang berarti “berasal dari nama jenis kayu yang terdapat di kecamatan bolangitang” yaitu kayu bulangita sehingga masyarakat pada waktu itu menamakan desa tersebut “ Desa Bolangitang” pada tahun 2008 desa bolangitang dimekarkan menjadi 3 bagian yang diprakarsai oleh bpk K.P djarumia da BPD bolangitang dengan dasar pemikiran desa bolangitang sangat luas dan sulit untuk dijangkau dan di layani oleh seorang kepala desa dengan luas wilayah kepemerintahan dan jumlah penduduk semakin padat maka dengan rapat musyawarah desa bolangitan gdi bagi 3. adapun sejak berdirinya desa bolangitang hingga sekarang telah di pimpin oleh para kepala pemerintahan dalam hal ini snagadi yang sebelumnya dibahasakan nama “kepala desa” baik pemerintahan definitive, pejabat maupun hanya sebagai pelaksana tugas (plt) yang sampai dengan saat ini sudah berjumlah 20 kepala pemerintahan.

Legenda Dan Sejarah Desa Bolangitang
 

Sejarah Desa Binjeita


Pada Tahun 1981 pada saat itu masa Kerjaan Mokapog yang pada ahirnya menjadi Kerajaan Bolangitang belum dikenal dengan nama desa Binjeita. Pada masa kerajaan Mokapog datangla sekolompok orang yang berasal dari suku binjai, mereka sedang melakukan pelayaran namun karena kehabisan bahan makanan maka berlabuhla mereka di kampung ini, dan mulai melakukan aktifitas dengan menanam bebagai macam komoditi untuk dijadikan bekal melanjutkan perjalanan saat itu mereka menanam jagung yang dalam bahasa Bolangitang dikenal ”BINTE” dan sayuran yang dalam bahasa Bolangitang dikenal dengan nama ”UTA” makah oleh raja Bolangitang pertama digabungkan kedua kata ini menjadi ”BINTDEUTA” berasal dari kedua penggabungan kata tersebut diubah menjadi BINJEITA, sehinga kata ini dijadikan nama desa yang sampai saat ini dikenal.

Sejarah Desa Binjeita
 

Asal Mula Nama Mokapog


Mokapog atau Mokapogu adalah nama sebuah negeri lama di Sulawesi Utara , sebuah kerajaan berdaulat dan berpemerintahan sendiri yang eksis didaerah kita ini sampai dengan kurang lebih sekitar empat abad yang lalu, menjelang kedatangan bangsa-bangsa Eropah seperti Portugis, Spanyol , dan kemudian Belanda ketanah air kita.
Wilayah nya kurang lebih meliputi luas kabupaten Bolaang Mongondow Utara sekarang. Letak pusat pemerintahannya didaerah ketinggian pegunungan arah selatan Bolangitang sekarang. Penduduknya merupakan gabungan dari kelompok-kelompok yang berasal dari lereng gunung Kabila, gunung Lagang Kadul , kelompok yang berasal dari Molibagu , Doluduo dan Dumoga.
Mokapog merupakan negeri induk yang dikemudian hari berkembang menjadi tiga kerajaan yang kita kenal sebagai Kerajaan Kaidipang , Kerajaan Bintauna dan kemudian Kerajaan Bolangitang.
( catatan: Ditahun 1912 kerajaan Kaidipang dan Bolangitang dipersatukan dengan nama Kerajaan Kaidipang Besar dengan ibu negerinya Boroko ).
Kerajaan Kaidipang didirikan oleh Pugu pugu Maurits Datubinangkal Korompot, Kerajaan Bintauna didirikan oleh Datu Solagu atau Datunsolang . Raja pertama Kerajaan Bolangitang adalah Salmon Muda Pontoh.
Adapun Kerajaan Kaidipang Besar ( 1912 — 1950 ) , diperintah oleh Rajanya yang pertama dan terakhir yaitu Raja Ram Suit Pontoh (R.S.Pontoh).
( PSP – MC )

 

Masa Kerajaan Bintauna


Kerajaan Bintauna asal mulanya dalam wilayah Pemerintahan Afdeling Gorontalo karena pada masa VOC Bintauna merupakan satu Marsaoleh-schar yaitu Wilayah Pemerintahan  yang di kepalai oleh seorang Marsaoleh (Ulea) dari Kerajaan Suwawa. Dalam perkembangannya kemudian raja kerajaan Bintauna melepaskan diri dari kerajaan Bone atau Suwawa yang kemudian membentuk kerajaan sendiri dengan nama Vintauna.

Dalam status sebagai kerajaan, mula-mula bintauna terdiri dari dua kelompok masyarakat yang masing-masing mempunyai wilayah sendiri dan berbeda dari sisi agama dan kepercayaanya yakni :




  1. Kelompok masyarakat bagian utara yakni kelompok heinden yang menganut kepercayaan animisme karena menyembah batu atau pohon
  2. Kelopok masyarakat bagian selatan yang menganut kepercayaan agama islam


latar belakang perbedaan agama dan kepercayaan inilah menyebabkan sehingga kelompok masyarakat tersebut saling memisahkan diri yakni kelompok masyarakat bagian selatan yang memeluk agama islam melepaskan diri dari kerajaan bintauna dan bergabung kembali dengan kerajaan suwawa. Dengan demikian kerajaan bintauna dalam perkembangan selanjutnya adalah sebagian dari kerajaan yang penduduknya menyembah atau menganut kepercayaan animisme.

Dalam perkembangan selanjutnya masyarakat bintauna yg di ikat adat kerajaan bintauna pada waktu itu sudah mulai mengenal agama di buktikan dengan makam Pendeta Talahatu dan istrinya di kompleks makam raja pertama yakni makam paduka Raja Mooreteo yang makamnya bentuknya hampir sama dengan bentuk bangunan gereja atau kahera konon raja pertama ini dikubur di dalam gereja ini menunjuka bahwa pada masa kerajaan bintauna pada awalnya masyarakatnya sudah menganut agama Kristen.

Paduka raja mooreteo dalam melaksankan tugas sebagai pemimpin bagian rakyatnya di raa minanga senantiasa di dampingi istrinya bernama vua tebo yang dari hasil perkawinannya di anugrahi seorang anak yang bernama Datu.

Dalam perkembangan selanjutnya setelah paduka raja mooreteo meninggal maka di nobatkanlah anak dari mooreteo dan vua tebo menjadi raja kedua yakni paduka raja datu. Karena datu di angkat jadi raja maka rakyat kerajaan pada waktu itu mengatakan bahwa datu rono salako yang artinya datu sudah menjadi raja besar atau menjadi raja maka berubahlah nama datu menjadi datunsolang yang kemudian nama itu menjadi marga keturunan raja-raja bintauna selanjutnya.

Pada masa paduka raja datu negeri kerajaan yang bertempat di raa minanga dipindah di suatu tempat yang bernama lasako atau vaya sangki. Paduka raja datu beristrikan vua rantoiya yang dari hasil perkawinannya di anugrahi anak bernama abo volakia dan abo patilima

Setelah paduka raja dau meninggal tahun 1783 yang kemudian di makamkan di tempat itu juga maka dinobatkanlah putra dari paduka raja datu menjadi raja yakni abo volakia namun avo volakia menolak untuk menjadi raja maka ditunjuklah penggantinya yakni anaknya yang bernama avo lahai tetapi avo lahai melakukan pelanggaran yakni saat putri-putri (mangoreaka) sedang menari kaimbu dalam sebuah acara adat tiba-tiba avo lahai masuk sambil mengendarai kuda di tengah-tengah para penari yang berakibat salah satu pakaian yang di kenakan oleh penari tersebut terinjak oleh kaki kuda yang berakibat avo lahai di buang di maluku dan pada akhirnya wafat di tempat pembuangan tersebut ketika avo lahai di buang maka dinobatkan patilima sebagai raja ke III pada tahun 1783 yang prosesi penobatannya di laksanakan di ternate.

Pada saat penobatan itulah marga datunsolang resmi dilekatkan pada nama raja dan keturunanya sehingga nama paduka raja ke III menjadi paduka raja patilima datunsolang dan pada saat itulah alat musik kebesaran (alat musik adat) diserahkan kepada raja patilima. Sehingga saat paduka raja patilima kembali dari ternate ke negeri lasako maka alat-alat musik ada dan tetap terpelihara keasliannya. Adapun alat musik adat tersebut adalah kolintang, gong, tambur, savua, paying kerajaan, tapajaro (tombak) dan eleso (keris).

Pada masa pemerintahan paduka raja patilima datunsolang negeri bintauna yang berada di lasako kembali di pindahkan ke raa minanga, negeri awal masa paduka raja moorete’o. sesudah raja mangkat maka dinobatkanlah salah satu anak dari paduka raja patilima datunsolang yakni salmon datunsolang sebagai raja ke IV.
Pada masa pemerintahan paduka raja salmon negeri kerajaan kembali lagi di pindahkan dari negeri ra’a minanga menuju ke kenegeri voa’a yang kemudian nama tempat ini diadopsi menjadi salah satu desa di kecamatan bintauna saat ini.

Sesudah paduka raja salmon mangkat maka pada tanggal 24 september 1957 dinobatkan adik kandung dari paduka raja salmon untuk menjadi raja ke V yakni abo batango atau di kenal dengan nama alias datunsolang. Pada masa pemerintahan paduka raja elias datunsolang maka pusat pemerintahan kerajaan pun kembali di pindahkan dari kegeri voa’a ke negeri pangkusa yang saat ini desa pangkusa.

Setelah raja elias meniggal maka di nobatkan raja Toraju Datunsolang yang merupakan anak dari paduka raja salmon datunsolang sebagai raja ke VI. Pada masa pemerintahan paduka raja toraju datunsolang kembali lagi pusat pemerintahan kerajaan di pindahkan lagi dari negeri pangkusa menuju ke negeri vantayo. Pada tahun 1884 tahta kerajaan diserahkan kepada paduka raja ke VII serael datunsolang yang merupakan putra dari paduka raja elias datunsolang. Pada masa pemerintahan paduka raja serael datunsolang inilah pemerintahan kerajaan kembali lagi di pindahkan dari negeri vantayo menuju negeri pangkusa.

Pada saat paduka raja serael wafat tahun 1983 maka menurut ketentuan pada waktu itu yang harus menggantikannya adalah anak dari paduka raja Toraju datunsolang namun karena anak dari paduka raja toraju datunsolang belum cukup dewasa maka tahun 1893 dinobatkanlah kembali toraju datunsoalng menjadi raja  VIII selanjutnya sambil menunggu anaknya menjadi dewasa.
Setelah dua tahun kemudian yakni tahun 1895 anak dari paduka raja toraju datunsolag pun dinobatkan menjadi raja IX yakni paduka raja mohamad toraju datunsolang.

Pada masa pemerintahan paduka raja mohamad toraju datunsoalng ini pada tahun 1905 pusat pemerintahan kembali lagi di pindahkan dari negeri vantayo menuju negeri minanga yang saat ini desa bintauna pantai yang kemudian pada tahun 1913 pusat pemerintahan kerajaan bintauna di pindahkan lagi ke bunia yang saat ini desa bunia dan pada tahun 914 pusat pemerintahan kerajaan bintauna kembali lagi di pindahkan dari bunia menuju ke pimpi, yang saat ini desa pimpi yang kemudian menjadi ibu negeri kecamatan bintauna. Pada tahun 1950 lewat gerakan pemuda dan masyarkat system kerajaanpun dihapuskan sehingga kekuasaan rajapun di hapuskan. Dengan dihapuskannya kekuasaan raja maka kerajaan bintauna menjadi distrik yang di pimpin oleh abo A.M datunsolang dengan jabatan sebagai amtenar yang kemudian pada perkembangannya selanjutnya saat ini menjadi kecamatan. Guna mengingatkan akan peristiwa pemindahan pusat pemerintahan kerajaan dari negeri minanga sekarang ini desa bintauna pantai ke negeri pimpi sekaran ini desa pimpi maka satu desa yang berada di satu tempat bernama bagugula diganti namanya menjadi bintauna agar nama bintauna akan tetap lestari yang kemudian dalam perkembangan selanjutnya menjadi kelurahan bintauna yang sekarang ini menjadi kecamatan bintauna sudah memiliki 1 kelurahan dan 14 desa.

Berikut ini intisari Raja-Raja pada masa pemerintahan kerajaan bintauna
  1. Paduka Raja Mo’orete’o
  2. Paduka Raja Datu
  3. Paduka Raja Patilima Datunsolang
  4. Paduka Raja Salmon Datunsoalng
  5. Paduka Raja Ellias Datunsolang
  6. Paduka Raja Toraju Datunsolang
  7. Aduka Raja Serael Datunsoalng
  8. Paduka Raja Toraju Datunsolang
  9. Paduka Raja Mohamad Toraju Datunsolang
write by refly hertanto puasa
 

Sejarah Desa Jambusarang


Desa jambusarang terbentuk pada tahun 1889 yang pada waktu itu masih hutan belukar dan terbentuk suatu wilayah kecil dan jumlah penduduk masih kurang dan wilayah tersebut masih wilayh pedukuhan desa bolangitang dan kepemimpinan waktu itu kakek dari I.L BABA yang di sebut PAHA atau kepala wilayah dan pada waktu itu desa jambusarang di tumbuhi banyak macam pohon tapi yang paling menonjol adalah pohon jambu sehingga wilayah itu di sebut dengan julukan jambu dan sejak itu wilayah tersebut menjadi suatu desa dan anak negeri menamakannya desa tersebut jambusarang.
Desa jambusarang memiliki 1.123 jiwa dan 278 KK
 

Sejarah Desa Sonuo


Pada zaman dahulu kala, desa sonuo masih hutan belantara. Menurut cerita orang-orang tua dahulu bahwa yang menumpas hutan belantara untuk di jadikan pemukiman yang selanjutnya menjadi desa yang di namakan desa sonuo, pada waktu itu orang yang tertinggal di desa sonuo 4 orang, ke empat orang itu ada seorang yang pemberani yakni B.Baguna dan berhasil mengusir orang-orang dari luar yaitu suku Mindanao. Suku Mindanao ini ingin mnduduki desa sonuo.

Desa sonuo berasal dari kata sonuo yang berarti orang-orang yang dalam perjalanan hanya berhenti di desa ini karena dihalangi oleh baguna.

Waktu berjalan hingga tahun 1901 maka terpililah seorang sangadi/pemimpin kampung yang bernama  Frets Bangko yang silih berganti masa pemerintahan, hingga kini sangadi di desa sonuo berjumlah 18 sangadi (2009 sampai sekarang) di mulai dari frets bangko sampai dengan Harsono Puasa.

Salah satu desa yang berada di kecamtan bolangitang barat ini memiliki luas wilayah 1.146,5 Ha, dengan jumlah penduduk 1.460 jiwa yang terdiri dari 793 jiwa (laki-laki) dan 667 jiwa (perempuan) dan terdiri dari 372 KK


Write by Refly Hertanto Puasa
 

Sejarah Desa Ollot


Awal mula berdirinya Desa Ollot yakni pada tahun 180 ditempat yang sekarang Desa Ollot.
Desa ollot waktu itu bernama “MOKAPOG” yang berarti “berasal dari nama gunung disebelah selatan desa ollot yang berkedudukan digihing” pada tahun 1812 raja Dotinggulo meninggal maka kerajaan kaidipang besar di gantikan oleh adik kandung dari Raja Dotinggulo yang bernama Raja Pugu-Pugu dan pada tahun 1848 Raja Pugu-Pugu mencari tempat tinggal baru yaitu LAGADA yang berada di desa kuala maka beliau turun dari Mokapog menuju Lagada berjalan kaki dengan pasukan kerajaan dengan melalui Desa Mokapog yang pada waktu itu Raja Pugu-Pugu berjalan melalui hutan belantara dan daerah tersebut daerah antara perjalanan beliau maka Raja Pugu-Pugu berhenti diantara dengan sebutan nama OLLOTIA. Maka dengan dasar itu anak negeri menamakan desa tersebut Desa Ollot dan pada tahun 2004 desa ollot di mekarkan menjadi 3 desa. Desa ini terletak 3,5 km kea rah ibukota kecamatan bolangitang barat, dengan memiliki luas wilayah 643 Ha, dengan jumlah penduduk 875 jiwa dan 223 KK.

Sejarah Desa Ollot

Write by Refly Hertanto Puasa
 

Terbentuknya kerajaan kaidipang


Cikal bakal terbentuknya kerajaan kaidipang berlatar belakang dari terbentuknya negeri keidupa yang di pimpin oleh seorang kepala suku bernama pugu-pugu (maoeritz datoe  binangkal) Di awal abad ke 16 masuk lagi penjajah kedua yakni bangsa belanda. Masuknya orang-orang belanda ini menyebabkan bangsa portugis terusir dan mereka tinggal mendiami daerah timor-timor hingga ke philipina. ±1630 seorang gubernur belanda piether van de broeke dalam lawatan misi perjalanan dari ternate menuju goa makassar kepalanya singgah berlabu di keidupa dan bertemu dengan maoeritz datoe binangkal sebagai kepala suku. Dalam pertemuan ini mereka menggunakan bahasa isyarat, melihat kondisi geografis negeri keidupa sangat strategis untuk kegiatan perniagaan dan berpotensi di sektor pertanian di dukung kepemimpinan maoeritz dketoe binangkal yang penuh kewibawaan  membuat gubernur belanda ini terinspirasi menawarkan kepada maoeritz datoe binangkal untuk diminta kesediaanya berangkat bersama-sama ke goa makassar diperhadapkan pada raja goa untuk dinobatkan menjadi raja di keidupa (kaidipang) Penawaran piether van den broeke ini langsung di musyawarahkan oleh maoeritz datoe binangkal dengan masyarakatnya dan masyarakat sangat manyambut dengan gembira serta penuh antusias. Berangkatlah rombongan menuju goa makassar setibanya di goa makassar maoeritz datoe binangkal langsung diperhadapkan pada raja goa sekaligus dimtakan persetujuan untuk penobatan menjadi raja di kaidipang. Resmilah MAOERITZ DATOE BINANGKAL menjadi Raja Kerajaan Kaidipang di lantik 1630.
Usai penobatan rombongan kembali ke kaidipang di atas kapal piether van den broeke menyematkan topi kebesaran Raja Maoeritz Datoe Binangkal, penyamatan ini menjadi symbol nama besar CROWN PET
CROWN = lingkaran pasa sisi topi
PET = bagian depan topi
Yang diluruskan menjadi nama besar KOROMPOT
Permaisuri beliau adalah putrid keturunan raja dari limutung (limboto) bernama TOHOMIONG OLII istri sewaktu masih berstatus kepala suku adalah :
BIHAKO dikarunia seorang anak bernama PUASA. Puasa kawin dengan seorang putrid dari BUOL bernama LETI hokum menurunkan anak-anak :
  • MOKODOMPIS
  • HARUNJA
  • GUMOHUNG
NAURU di karunia seorang anak bernama DOKOKONO menurunkan anak-anak :
  • BUHANG
  • PATILIMA
  • MOLUT
Selanjutnya kerajaan kaidipang ini mempunyai batas-batas wilayah sebelah barat desa gentuma saat ini menjadi wilayah gorontalo utara sebelah timur desa sampiro minangaditi.
Kerajaan kaidipang dipimpin oleh ke 14 orang raja secara turun temurun yang berakhir dengan raja ke 14 (raja terakhir) MAHMUD MANOPO KOROMPOT ANTOGIA  yang wafat tanggal 07 februari 1910 di kediaman istana terletak di desa kuala yang saat ini sudah menjadi pemukiman penduduk. Dan disembayangkan di mesjid jami desa kuala yang di bangun oleh raja ke XIII LUI KOROMPOT, masyarakat memberi julukan penghormatan KIOMBUINA KOMASIGI.
Raja mahmud memrintah 1908-1912, namun 07 februari 1910 beliau wafat selang dua tahun kerajaan kaidipang mengalami kevakuMan yang menjalankan roda pemerintahan adalah JOGUGU MBUINGO PAPEO.
Dalam fase wafatnya raja mahmud tiga calon yang dipersiapkan yakni ABO LANCONG KOROMPOT  adik kandung raja mahmud, ABO HUSAIN KOROMPOT putra mahkota raja ke X tiaha korompot II dan ABO DADOALI  L KOROMPOT putra mahkota raja ke XIII LUI KOROMPOT. Dalam pencalonan ini terjadi silang pendapat ini menyebabkan abo lancing bernegosiasi dengan Ram Suit Pontoh untuk menduduki posisi raja di kerajaan kaidipang yag diterbitkan S.K oleh residen belanda di manado dengan kontrak pendek atau KORTE VERKLARENG. Setelah  berkuasa nama kerajaan menjadi kerajaan kaidipang besar meliputi wilayah kaidipang bolangitang dengan ibu kota buroko.
Dengan batas-batas wilayah :
  • Sebelah barat dengan sungai atinggola
  • Sebelah timur dengan desa biontong
Kedudukan Raja Ram Suit Pontoh berakhir bulan juli 1950 seiring dengan penghapusan daerah swapraja di bolaang mongondow..
Tokoh-tokoh pemuda yang berjiwa patriotis nasional yang sangat besar andilnya Di kaidipang besar menentang kebengisan penjajah adalah terdiri dari tokoh-tokoh serikat islam, organisasi muhamadiyah dan hisbulwatan merupakan pemuda merah putih yang tangguh. Ketua pemuda hisbulwatan ini bapak abo arifin pontoh dan sekertaris bapak noho rahman.
Pemuda-pemuda merah putih adalah cabang dari pemuda merah putih gorontalo yang mulai bergerak tahun 1942 di bawah pimpinan tokoh pahlawan nasional gorontalo bapak NANI WARTABONE yang menangkap dan mngusir penjajah belanda dengan satu tekad dan tujuan Indonesia berparlemen.
Kemudian tokoh-tokoh pemuda merah putih ini juga mendapat dukungan dari pemuda-pemuda berjiwa patriotis nasionalis yang tergabung dalam KNI (komite nasional Indonesia) bolaang mongondow berkedudukan di kotamobagu.
Selanjutnya dalam penelaan penulisan saudara audi kerab ini kami tidak bermaksud melakukan protes atau terinspirasi oleh suatu pemikiran penulisan tandingan karena apa yang sudah ditulis itu berdasarkan dengan pemikiran dan pertimbangan nara sumber yang memberikan informasi dan ini juga adalah hak setiap warga Negara untuk mengekspresikan pendaptnya.
Kami juga sebagai warga Negara yang baik tentunya punyak hak yang sama dalam mengeluarkan pendapat yang berdasarkan juga dengan kenyataan-kenyataan yang ada, sebab dari tokoh-tokoh masyarakat yang hadir dalam pertemuan ini tahun 1942 sudah cukup merasakan dan menyaksikan peristiwa-peristiwa waktu itu.
Dalam penelaan penulisan ini kami hanya terbatas pada seputar kerajaan kaidipang besar dan tidak menyentuh kerajaan bintauna karena tidak punya gambaran data untuk penulisannya sebagai warga masyarakat bekas wilayah kaidipang besar marilah kita rapatkan barisan jaga dan pelihara silaturahmi dan tasilaturahmi persaudaraan dan semua peristiwa-peristiwa sejarah masa lalu yang pernah terjadi baik yang bersifat positif atau negative marilah kita kaji dan analisa secara antusias.
Yang positif marilah kita jadikan sebagai tolak ukur dalam tindakan dan perbuatan yang sangat mengangkat harkat dan martabat identitas negeri kita ini dalam proses pembangunan daerah dan yang negative harus kita tinggalkan ambil hikmanya untuk tidak menjadi isu benih benih perpecahan.
Maksud penelaan kami ini adalah untuk memberikan pencerahan pandangan sehingga dalam penulisan ini tidak ada yang merasa diuntungkan atau di rugikan, bangga atau kecewa sebab masyarakat kaidipang besar itu adalah semuanya bersaudara.
Marilah kita arahkan pandangan ke depan agar berjiwa besar dan dewasa menghadapi berbagai macam tantangan dan hambatan supaya bolmut menjadi suatu daerah yang menjungjung tinggi nilai-nilai moralitas untuk semua kalangan strata masyarakatnya serta penuh rasa tanggung jawab dan percaya diri menghargai nilai-nilai normative baik itu undang-undang tertulis maupun undang-undang tidak tertulis (hukum adat). (rhp)
Terbentuknya kerajaan kaidipang
 

Asal Nama Bintauna



Bintauna berasal dari Vintauna yang terdiri dari dua kata vinta dan una, vinta artinya bintang dan una atau owuna-wuna artinya terdahulu, sehingga vintauna sesungguhnya di maknai sebagai bintang lebih dahulu. Dalam versi lain dimaknai juga bahwa vintauna adalah berasal dari panggilan istri dan suami dari manusia pertama kali yang mendiami negeri huntuo yaitu vai vaunia dan pai sahaya. Suami sahaya memanggil istrinya dengan kata vinta yang berarti bintang dan istri memanggil sang suami dengan panggilan una artinya terdahulu.

Huntuo adalah bahasa bintauna yang merupakan kata asal dari huntuk yang sekarang ni menjadi nama salah satu Desa di Kecamatan Bintauna. Kata Huntuo di ambil dari kata huntuo yang artinya suatu benda yang terlatak di atas benda lain yang kemudian di artikan sebagai top kecil yang terletak di atas kepala besar yang maksudnya sesuatu tempat yang terletak diatas panggung gunung sehingga kelihatan lebih tinggi dari tempat lain.
 
 
Support by : Kakay Gembel | Putry | Zhafif
Copyright © 2011. Seni dan Budaya Bolmong Utara - All Rights Reserved
Template Modifi by Creating Website Published by Zhafif
Proudly powered by Blogger